MENJELANG Ramadhan, banyak orang membayangkan gemerlap panggung dan rapat-rapat besar. Namun di sudut Kota Bandung, ada kisah sunyi yang justru lebih menggugah. Bukan tentang kemegahan acara, melainkan tentang ketulusan yang bekerja dalam diam. Seorang pria yang sejak kecil kehilangan tangan, tetap berdiri teguh menyambut bulan suci dengan caranya sendiri—memasang spanduk Ramadhan demi menghadirkan semangat dakwah di tengah masyarakat.
Ia adalah Pujangga Agoes Chibo, Sekretaris PD Parmusi Kota Bandung. Dengan keterbatasan fisik yang tak pernah ia jadikan alasan, Agoes memilih bergerak saat yang lain mungkin menunggu. Setiap tali yang terikat, setiap banner yang terpasang, bukan sekadar media promosi—melainkan simbol cinta, pengabdian, dan keteguhan hati.
Di balik selembar spanduk yang mungkin terlihat biasa oleh mata yang melintas, tersimpan pelajaran besar: bahwa kekuatan organisasi bukan selalu lahir dari gemuruh massa, melainkan dari satu hati yang tak pernah menyerah.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan menyambut bulan suci, ternyata ada sosok sederhana yang mengajarkan makna semangat tanpa batas. Ia biasa dipanggil Agoes Chibo yang menjabat sebagai sekretaris PD.Parmusi Kota Bandung. Sejak usia SD, ia telah kehilangan tangan. Sebuah ujian yang bagi sebagian orang mungkin mematahkan harapan. Namun bagi Agoes, itu justru menjadi alasan untuk terus berdiri, bergerak, dan memberi arti.
Ramadhan baginya bukan sekadar datang dan berlalu. Ia adalah momen untuk berbuat. Tanpa menunggu rapat besar atau tim besar, Agoes memilih jalan sunyi namun berdampak: memasang spanduk di titik-titik keramaian. Dengan keterbatasan fisik yang ia miliki, ia tetap berusaha untuk memasang dengan mengeluarkan sedikit dana meminta tolong teman untuk memasang. mengikat tali, merapikan banner, dan memastikan pesan Ramadhan serta nama Parmusi hadir di tengah masyarakat.
Orang-orang yang melintas mungkin hanya melihat selembar spanduk. Namun di balik itu, ada keteguhan hati. Ada semangat yang tak pernah hilang. Ada pesan bahwa branding ormas bukan hanya tentang desain dan strategi, tetapi tentang keteladanan.
Agoes tidak banyak bicara. Ia bekerja. Setiap spanduk yang terpasang adalah doa. Setiap simpul tali yang diikat adalah bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkontribusi. Justru dari dirinya, kita belajar bahwa kekuatan sebuah organisasi bisa lahir dari individu-individu yang ikhlas.
Parmusi tidak harus selalu tampil besar untuk dikenal. Cukup hadir, konsisten, dan nyata di tengah masyarakat. Seperti semut yang kecil namun berdampak, langkah sederhana bisa membangun kepercayaan dan kedekatan. Branding yang kuat bukan dibangun dalam sehari, melainkan dari gerakan kecil yang terus berulang.
Kisah Agoes Chibo adalah pengingat: semangat tidak diukur dari jumlah tangan, tetapi dari keteguhan hati. Ramadhan kali ini, ia kembali memasang spanduk, kembali menyapa masyarakat, kembali menunjukkan bahwa cinta pada organisasi dan umat bisa diwujudkan dengan cara sederhana.
Semoga semangat ini menular. Bahwa untuk membesarkan Parmusi, kita tidak selalu butuh tenaga besar dan banyak orang. Cukup satu niat yang tulus, satu aksi nyata, dan satu hati yang tidak pernah menyerah.***




