Penasaran Dengan Pendiri CGV Indonesia? Ini Sosoknya

APA DAN SIAPA – CGV yang dulu bernama Blitz Megaplex kini sudah banyak di seluruh Indonesia, mengingat bioskop yang sudah tak aneh menjadi sarana hiburan yang sangat populer bagi kebanyakan orang.

Dikutip dari situs resminya, CJ CGV CINEMAS, juga dikenal sebagai PT Graha Layar Prima, Tbk.

Jaringan bioskop terkemuka di Indonesia yang pertama kali didirikan pada tahun 2004
dan telah beroperasi sejak dibuka kali pertamanya di Paris Van Java, Bandung pada tahun 2006.

Baca Juga:   Piala Dunia Qatar 2022 Jadi Akhir Karir Lionel Messi

CGV adalah merek ternama dari jaringan bioskop global, yang telah memiliki bioskop yang beroperasi di seluruh penjuru dunia termasuk Korea Selatan, China, Vietnam, Myanmar, Turki dan Amerika Serikat.

Di Indonesia CGV didirikan oleh Ananda Siregar dan David Hilman. Berkat kekompakan dan kerja sama yang baik dari keduanya-lah alasan bisnis bioskop mereka besar seperti sekarang.

Dengan kapasitas layar yang terus berkembang pesat, CGV Indonesia akan menayangkan berbagai macam film dari berbagai negara seperti India, Korea, Jepang dan tentunya konten lokal.

Baca Juga:   Berjuluk Pendekar, Berikut Identitas Asli Joko Kendil

CGV Indonesia juga memberikan pengalaman menonton melalui kemajuan teknologi yang digunakan seperti 3D, 4DX, Screen X, SphereX, Dolby Atmos, melalui beberapa kelas auditorium: Regular Class, Velvet Class, Gold Class, Satin Class, Sweetbox.

Hingga saat ini, CGV Indonesia memiliki 50 bioskop dengan 314 layar yang tersebar di 23 kota dan 11 provinsi di Indonesia.

CGV Indonesia terus membuka lokasi baru tahun ini untuk mengakses 360 layar di 7 bioskop di seluruh Indonesia.

Baca Juga:   Jadi Wisudawan ITB dengan IPK Tertinggi 3,98 Ini Tips Belajar Aletha Shahisa,

Berdasarkan informasi informasi perusahaan, perseroan pertama kali mencatatkan sahamnya di papan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 April 2014. Total saham yang terakumulasi 337.657.532 dengan harga penawaran Rp 3.000 per saham.

Saat ini 51% saham dipegang oleh CGI Holdings Limited sebagai pengontrol data. Kemudian 40% dimiliki oleh Core Capital Limited dan sisanya 9% dimiliki oleh publik.***Hilmi Putriyanti***

 

 

 

 

Editor: